Review Film “The Thinking Game”: Dokumenter tentang AI-nya Google
Jadipunya.id – Ini bukan artikel review film The Thinking Game (rilis 2024) yang serius. Setelah nonton, saya ingin membuat catatan biasa saja.
Sesuai judulnya, film dokumenter ini membuat penasaran. Apakah maksudnya bermain sambil berpikir, atau permainan pikiran yang memusingkan? Ternyata jawabannya bisa keduanya. Ya, ini tentang bermain dan berpikir dari seorang Demis Hassabis, pimpinan DeepMind, perusahaan AI (Artificial Intelligence) di bawah Google.
Sinopsis Singkat
Secara garis besar, The Thinking Game mengikuti perjalanan Demis Hassabis dari kecil hingga menjadi tokoh AI terkemuka. Di DeepMind, Hassabis adalah arsitek di balik AlphaFold.
AlphaFold merupakan program AI yang mampu memprediksi struktur protein manusia. Tentang struktur protein manusia ini sudah jadi masalah yang sulit terpecahkan dalam 50 tahun terakhir. Di bidang sains, struktur protein ini jadi teka-teki paling menyusahkan. Nah, AlphaFold ini jadi solusinya.
Namun, film ini tidak membahas secara dalam sisi teknis pembuatan AI tersebut. Fokus utamanya justru pada proses kehidupan: bagaimana seorang Demis Hassabis bertumbuh dari seorang pemain catur jenius, developer game, lalu founder perusahaan AI yang penemuannya mengubah dunia.
Tak hanya menampilkan Hassabis, banyak juga peneliti AI lain yang diwawancara. Salah satunya adalah seorang ahli asal Indonesia bernama Adhiguna Kuncoro.
Review Film “The Thinking Game”: Meski Berpusat pada Hassabis, Dokumenter ini Tetap Enak Ditonton
Sutradara Greg Kohs seperti sengaja menampilkan proses yang “berantakan”, tapi natural. Posisi kamera banyak diamnya. Terkadang goyang-goyang sedikit. Uniknya, kita jadi seperti orang yang berada langsung di dalamnya film itu.
Film ini juga tidak dijahit dengan musik berlebihan untuk menggiring emosi. Justru, film ini menggambarkan keruwetan dan ketegangan suasana rapat para peneliti yang kadang terduduk lesu di depan layar komputer.
Ada juga penggambaran kompetisi antara manusia dan AI. Realitas kehidupan masa kini yang cepat atau lambat akan ada di sekitar kita. Bahkan, mungkin sudah terjadi dalam beberapa bidang.
Meski saya menikmati film dokumenter ini, tetapi penekanan pada tokoh Demmis Hasabis terlalu dominan. Yaaa, namanya juga film semi-biografis tentang Demmis Hasabis, kan?
Kesimpulan
Film dokumenter ini layak jadi tontonan mahasiswa, guru, dosen, peneliti, atau siapa saja yang penasaran dengan perkembangan dunia AI. Namun, jangan mengharapkan kritikan pada AI dan dampak sosialnya. Tempatkan film ini sebagai biografi inspiratif saja.
Kamu bisa menonton film dokumenter berdurasi 84 menit ini di Youtube secara gratis.
Ini link-nya: https://www.youtube.com/watch?v=d95J8yzvjbQ
Gimana, jadi punya khazanah wawasan baru kan?
